Abah,
Berehatlah di sana di sisi Maha Esa,
anak-anakmu tetap berusaha bekerja menuai pahala buatmu di sana,
Abah,
Telah berbulan abah pergi,
saat potretmu dilirih saat airmata juga merintih,
sedih anugerah Allah dihulur sabar bersulam pahala hendaknya
redha tetap,
sedih hinggap,
redha dan airmata mengundang doa yang tak putus,
bak air mengalir dikali,
anak-anakmu rindu.
Abah,
Berehatlah,
kami juga akan menyusul,
sedetik waktu lagi,
kan kami juga warga akhirat,
singgah bercucuk tanam,
untuk tuaian di negara kekal,
InsyaAllah.
Today is a gift that we have to enjoy and be grateful to, tomorrow is something that we have to work very hard for, yesterday was a memory that we have to learn from.
Friday, 15 March 2013
Thursday, 7 February 2013
2007-2012 - Tahun-tahun penuh tarbiah
Bismillahirrahmanirrahim...
Alhamdulillah, duhai anak-anak permata hati telah sebulan kembali ke tanahair, Alhamdulillah amanah semua yang ummi dan abah galas di bumi UK InsyaAllah telah selesai kami lunaskan. Maka, pulanglah kita untuk menjalankan amanah yang lain pula, amanah ummah InsyaAllah.
Kalian saat ini masih lagi terus menerokai kehidupan baru di bumi tumpah darah kita tercinta dengan persekitaran dan rakan-rakan yang baru. Pendidikan musleh adalah pilihan yang ummi dan abah hamparkan buat kalian dan ummi mengharapkan biah soleh yang kami cuba terapkan di rumah dapat kalian rasa sinambungannya di sekolah.
Sememangnya segala-galanya adalah baharu dan tidak mendamaikan pada pengalaman yang awal. InsyaAllah ummi dan abah amat tenang melihatkan persekitaran yang cintakan Allah, Rasul dan Al-Quran. Muallim dan muallimah yang sejuk mata memandang, senyuman ikhlas tercoret di bibir dan pelukan hangat ukhwah yang terasa saat pertama kali bersua. Pada Allah ummi serahkan kalian, doa ummi, kalian akan terdidik sepertimana mereka mendidik darah daging mereka sendiri, penuh tarbiah dalam menjunjung ketauhidan kepada Allah. InsyaAllah.
InsyaAllah ummi akan menyambung certa kembara sementara kita di bumi ini.
Alhamdulillah, duhai anak-anak permata hati telah sebulan kembali ke tanahair, Alhamdulillah amanah semua yang ummi dan abah galas di bumi UK InsyaAllah telah selesai kami lunaskan. Maka, pulanglah kita untuk menjalankan amanah yang lain pula, amanah ummah InsyaAllah.
Kalian saat ini masih lagi terus menerokai kehidupan baru di bumi tumpah darah kita tercinta dengan persekitaran dan rakan-rakan yang baru. Pendidikan musleh adalah pilihan yang ummi dan abah hamparkan buat kalian dan ummi mengharapkan biah soleh yang kami cuba terapkan di rumah dapat kalian rasa sinambungannya di sekolah.
Sememangnya segala-galanya adalah baharu dan tidak mendamaikan pada pengalaman yang awal. InsyaAllah ummi dan abah amat tenang melihatkan persekitaran yang cintakan Allah, Rasul dan Al-Quran. Muallim dan muallimah yang sejuk mata memandang, senyuman ikhlas tercoret di bibir dan pelukan hangat ukhwah yang terasa saat pertama kali bersua. Pada Allah ummi serahkan kalian, doa ummi, kalian akan terdidik sepertimana mereka mendidik darah daging mereka sendiri, penuh tarbiah dalam menjunjung ketauhidan kepada Allah. InsyaAllah.
InsyaAllah ummi akan menyambung certa kembara sementara kita di bumi ini.
Friday, 23 November 2012
22 November 2012
Allah,
Allah,
Allah,
Allahuakbar
Berhentilah
airmata,
Lama sudah
tak putus,
Keringkan
airmatamu anakku,
Sabarlah
hati yang pedih,
Waktu kita
jauh beribu batu,
Takdir
Allah dia pergi,
Belum kau
kenal kasih nendamu,
Dia pergi
mengadap Ilahi.
Disetiap
rindu ku lantunkan doa,
Di setiap
titis air mata kita kirimkan doa,
Di setiap
hela nafas kita panjatkan doa,
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya
Mujeeb, Ya Ghaffur, kami redha Kau ambil dia kembali ke sisi MU, Kami mohon
janganlah Engkau ambil dia dari doa kami dan generasi kami, Ya Allah
Al-Fatihah. Allah ampunkan dosa
abah, luaskan dan lapangkan kubur abah, dan jadikannya tempat beristirehat,
terangkanlah ia, dan jadikanlah ia jendela taman-taman syurga. aameeen.
Dari Ummu 'Athiyah r.a., katanya: "Kami dilarang berkabung kerana
kematian, lebih dari tiga hari; kecuali kerana kematian suami, boleh empat
bulan sepuluh hari. Selama masa berkabung itu, kami tidak dibolehkan memakai
celak (kosmetik), wangi-wangian, dan memakai pakaian yang bercorak
(warna-warni). Tetapi hal seperti itu dibolehkan bagi perempuan yang baru suci
dari haid sekedar untuk kebersihan, kesihatan, dan menghilangkan bau
hamis." - Hadis Sahih Muslim Jilid
3. Hadis Nombor 1436.
Sehari abah pergi mengadap Ilahi, masih bagai mimpi, bukan menyesali, tapi mengubat hati, ku rebut peluang 3 hari berkabung ini, ku biar aimata jatuh, kerana sayang yang luas, cinta yang dalam buat abahku.
Tuesday, 2 October 2012
Memori Hati - Monolog 2 bab akhir
Hati bersimpuh,
naluri bertaut,
suara kalbu terbang pergi,
menembusi langit paling tinggi,
ubat dunia berlalu pergi,
bila rohani menempuh sakit,
Kalam Allah ubat hati.
Masa tidak lagi cemburu,
terus dia pergi tak berpaling,
tidak tunggu lagi seperti selalu,
pun tidak juga menjeling
baru tahu dia paling berharga,
pada seisi dunia,
hanya mahu dia tetap tinggal,
dan pemalar lain berubahlah,
janji dia tetap pemalar,
Terima kasih Allah,
ubat hati dan rohani,
kalamullah pengubat duniawi ukhrawiku,
bersimpuh hati dalam dakapan ayat cinta Ilahi,
masa juga kerdil meruntun kembali bawa hati
merilih penuh makna sebuah naskah yang masih berbaki.
InsyaAllah, bakal ditutupi naskah dengan cinta Ilahi dan kerdil diri, bahawa setiap langkah dan huruf itu bukan milik siapa-siapa, bahkan milikNya jua, setiap titik dakwat tak tertumpah dengan izinNya, kembali hati menjadi kecil dan bersimpuh merenung besarnya rahmat Ilahi....
Friday, 1 June 2012
Memori Berjuang - Malu!!!
![]() |
| Pic's source - google |
Malu membaca kisah ini, sungguh memalukan.
------------------------------ ------------------------------ ------------------------------ ------
Kisahnya begini, ada seorang tuan yang amat baik dengan hamba perempuannya, teramat baik, diberi makanan yang enak2, disediakan tempat tinggal yang baik, diberikan kenderaan yang cantik, hambanya diperintahkan melakukan kerja-kerja dengan baik kerja-kerja yan...g tidak mendatangkan mudharat padanya malah menambahkan kebaikan.
Tapi hambanya selalu ingkar, benda baik yang disuruh selalu tidak dilakukan, teguran-teguran hamba-hamba yang lain selalu dipandang remeh, malah meremehkan mereka pula, teguran baik selalu dipandang tidak endah, malah dia menyuruh yang lain mencermin diri, menyangka dengan ingkar suruhan tuannya dia masih lagi hamba yang baik, dengan melanggar suruhan tuannya dia masih layak dikasihi tuannya.
Selalu hatinya tidak tenang, merasa tidak cukup makanan, tidak cukup pakaian, tidak betah tinggal dirumah cantik, tidak selesa berkenderaan baik.
Dia datang ke tuannya dan meminta-minta, supaya dia dipandang dan supaya kehendaknya dituruti. Tuannya memberi lagi apa yang di hajati. Walau kebanyakan suruhan tidak di turuti, kalau di ikuti pun memilih-milih kerja yang dilakukan, yang membawa untung sendiri yang di ikuti.
Tidak pernah ada rasa malu, meminta selalu, menuruti hanya bila senang di hati. Tiada riak malu di wajah sendiri.
------------------------------ ------------------------------ ------------------------------ ------
Oh beginilah kisahnya kita hamba dengan tuan kita iaitu Allah S.W.T.
Tidak ada lagi malu bila nikmat selalu diberi, perintah Allah tidak dituruti, nasihat orang baik tidak mahu didengari, malah terus meminta-minta seperti kita ini tiada salahnya.
Malu... malu sendiri rasanya bila di muhasabah. Rupanya beginilah kita pada kebanyakan masanya.... sedih rasanya...Masih, kita punya Allah yang Maha luas pengampunannya.... Allahuakbar
Allah.... Allah sungguh malu rasanya, ampunkan kami ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang benar, jalan yang Engkau redhai, semoga kami selalu menjadi hambamu yang sentiasa bersyukur dengan melaksanakan semua suruhan Mu dan meninggalkan segala laranganMU dan sentiasa sedar dan datang padaMu.... aameeen ya Rabb
------------------------------
Kisahnya begini, ada seorang tuan yang amat baik dengan hamba perempuannya, teramat baik, diberi makanan yang enak2, disediakan tempat tinggal yang baik, diberikan kenderaan yang cantik, hambanya diperintahkan melakukan kerja-kerja dengan baik kerja-kerja yan...g tidak mendatangkan mudharat padanya malah menambahkan kebaikan.
Tapi hambanya selalu ingkar, benda baik yang disuruh selalu tidak dilakukan, teguran-teguran hamba-hamba yang lain selalu dipandang remeh, malah meremehkan mereka pula, teguran baik selalu dipandang tidak endah, malah dia menyuruh yang lain mencermin diri, menyangka dengan ingkar suruhan tuannya dia masih lagi hamba yang baik, dengan melanggar suruhan tuannya dia masih layak dikasihi tuannya.
Selalu hatinya tidak tenang, merasa tidak cukup makanan, tidak cukup pakaian, tidak betah tinggal dirumah cantik, tidak selesa berkenderaan baik.
Dia datang ke tuannya dan meminta-minta, supaya dia dipandang dan supaya kehendaknya dituruti. Tuannya memberi lagi apa yang di hajati. Walau kebanyakan suruhan tidak di turuti, kalau di ikuti pun memilih-milih kerja yang dilakukan, yang membawa untung sendiri yang di ikuti.
Tidak pernah ada rasa malu, meminta selalu, menuruti hanya bila senang di hati. Tiada riak malu di wajah sendiri.
------------------------------
Oh beginilah kisahnya kita hamba dengan tuan kita iaitu Allah S.W.T.
Tidak ada lagi malu bila nikmat selalu diberi, perintah Allah tidak dituruti, nasihat orang baik tidak mahu didengari, malah terus meminta-minta seperti kita ini tiada salahnya.
Malu... malu sendiri rasanya bila di muhasabah. Rupanya beginilah kita pada kebanyakan masanya.... sedih rasanya...Masih, kita punya Allah yang Maha luas pengampunannya.... Allahuakbar
Allah.... Allah sungguh malu rasanya, ampunkan kami ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang benar, jalan yang Engkau redhai, semoga kami selalu menjadi hambamu yang sentiasa bersyukur dengan melaksanakan semua suruhan Mu dan meninggalkan segala laranganMU dan sentiasa sedar dan datang padaMu.... aameeen ya Rabb
Tuesday, 29 May 2012
11 tahun mengukir bahagia syurgawi - 260501-260512 and counting
Zauj Kareemku,
Hari ini genaplah 11 tahun,
Ijab bersambut,
Mahar berganti tangan,
Amanah abang raih.
Masih jelas seperti semalam,
keringat di dahi, abang elus diam,
mulut terkumat-kamit,
ijab kabul di hafal sejak berminggu lalu,
abang ulang dan ulang,
sambil zikir menyejuk hati dan istighfar berulang kali,
Bahu abang tak bakal ringan lagi,
Abang bakal meringankan bahu Abah pula.
Sejak saat itu,
tak pernah sehari berlalu tanpa syukur di hati,
Kurniaan Ilahi,
Abang, imam yang di sayangi,
11 tahun bukanlah lama bukanlah baru,
Namun seperti baru semalam,
Abang menjadi pakaian Ati,
Ati menjadi pakaian abang,
Seperti firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 187, diantaranya:
"Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka."
Mula saat itu setiap aib dan indah
abang jaga dan lindung seperti pakaian menutup aurat paling kukuh,
Begitu juga Ati sebaliknya.
Laksana pakaian yang selesa seperti sutera,
Mehnah dunia yang panas dan melemaskan,
kita harung bersama,
umpama pakaian yang saling mendamaikan,
gigitan ujian dan sengatan nafsu duniawi,
sama-sama kita jauhi,
Bak pakaian yang menutupi,
debu dan habuk yang menyesakkan rumahtangga,
sama-sama kita hindari.
ibarat pakaian,
kita tahu cukup dan kurangnya,
tidak terlalu tebal hingga melemaskan,
tidak terlalu nipis hingga sejuk menggigit ke tulang hitam,
ibarat pakaian, saling mencukupi tidak membebankan,
Abanglah pakaian paling indah bak sutera hijau syurgawi,
Abang Zauj Kareem Ati,
Terima kasih sayang,
abang hidangkan kami dengan akhlak yang indah,
teladan buat buah cinta kita,
abang sajikan kami makmummu,
dengan cantiknya adabmu,
pengikat hati-hati kita selalu,
maka mengertilah isterimu ini,
bila meneliti bait-bait hadis Nabi,
Abang yang di sayang,
Semoga Ati dan cinta hati kita,
adalah penyejuk mata dan hati seperti doa yang abang lantunkan saban waktu,
Semoga Ati juga pakaian sutera hijau syurgawi abang,
Ingin bangun di alam kekal sebagai bidadari abang.
Bersama di singgahsana dipenuhi mutiara dan sutera,
Tetap muda dan membahagiakan,
Kekal bersama-sama,
InsyaAllah,
Aameeen.
Selamat Ulangtahun Baitul Muslim kita yang ke-11 Zauj Kareemku.
Hari ini genaplah 11 tahun,
Ijab bersambut,
Mahar berganti tangan,
Amanah abang raih.
Masih jelas seperti semalam,
keringat di dahi, abang elus diam,
mulut terkumat-kamit,
ijab kabul di hafal sejak berminggu lalu,
abang ulang dan ulang,
sambil zikir menyejuk hati dan istighfar berulang kali,
Bahu abang tak bakal ringan lagi,
Abang bakal meringankan bahu Abah pula.
Sejak saat itu,
tak pernah sehari berlalu tanpa syukur di hati,
Kurniaan Ilahi,
Abang, imam yang di sayangi,
11 tahun bukanlah lama bukanlah baru,
Namun seperti baru semalam,
Abang menjadi pakaian Ati,
Ati menjadi pakaian abang,
Seperti firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 187, diantaranya:
"Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka."
Mula saat itu setiap aib dan indah
abang jaga dan lindung seperti pakaian menutup aurat paling kukuh,
Begitu juga Ati sebaliknya.
Laksana pakaian yang selesa seperti sutera,
Mehnah dunia yang panas dan melemaskan,
kita harung bersama,
umpama pakaian yang saling mendamaikan,
gigitan ujian dan sengatan nafsu duniawi,
sama-sama kita jauhi,
Bak pakaian yang menutupi,
debu dan habuk yang menyesakkan rumahtangga,
sama-sama kita hindari.
ibarat pakaian,
kita tahu cukup dan kurangnya,
tidak terlalu tebal hingga melemaskan,
tidak terlalu nipis hingga sejuk menggigit ke tulang hitam,
ibarat pakaian, saling mencukupi tidak membebankan,
Abanglah pakaian paling indah bak sutera hijau syurgawi,
Abang Zauj Kareem Ati,
Terima kasih sayang,
abang hidangkan kami dengan akhlak yang indah,
teladan buat buah cinta kita,
abang sajikan kami makmummu,
dengan cantiknya adabmu,
pengikat hati-hati kita selalu,
maka mengertilah isterimu ini,
bila meneliti bait-bait hadis Nabi,
Daripada Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya:
"Jika
aku hendak menyuruh seseorang supaya sujud kepada seseorang tentulah
aku perintahkan isteri supaya sujud kepada suaminya." (Riwayat
at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Baihaqi dan al-Wahidi).Abang yang di sayang,
Semoga Ati dan cinta hati kita,
adalah penyejuk mata dan hati seperti doa yang abang lantunkan saban waktu,
Semoga Ati juga pakaian sutera hijau syurgawi abang,
Ingin bangun di alam kekal sebagai bidadari abang.
Bersama di singgahsana dipenuhi mutiara dan sutera,
Tetap muda dan membahagiakan,
Kekal bersama-sama,
InsyaAllah,
Aameeen.
Selamat Ulangtahun Baitul Muslim kita yang ke-11 Zauj Kareemku.
Wednesday, 16 May 2012
Cerpen: Mawar di hatiku
"Assalamualaikum mak, saya pergi dulu ya", aku memberi salam, sambil tangan ibuku kukucup penuh kasih sayang. Ibuku mengucup bahagia kening ini sambil mengangguk memberi izin.
Anak sekecilku sudah biasa berpergian seorang diri melangkah ke sekolah. Di zaman-zaman itu, perkampungan ini sangat selamat, jiran-jiran sepanjang jalan mengawas anak-anak tetangga yang berjalan sendiri dan berbasikal sendiri ke sekolah. Jiran-jiran yang sejalan dengan anak-anak , memerhatikan langkah anak-anak ini sampai ke pintu sekolah. Seperti persefahaman yang tak pernah ditandantangi bersama. MOU yang tidak mengikat mereka. Tapi, berjalan persefahaman itu seperti biasa, kerana ikhlas dalam berjiran.
"Selamat pagiiii cikguuuuuuuu," bergema kelas kami dengan suara nyaring anak-anak yang menyambut guru masuk ke kelas.
"Assalamualaikum anak-anakku," dia sahajalah guru yang mewakilkan kami sebagai anaknya. Dan dia jugalah yang tidak pernah tidak singgah difikiranku sehari-hari. Aku pasti ingin jadi guru. Seperti cikgu Shamsinar.
"Selamat pagi, anak-anak boleh duduk sekarang," manis wajahnya, Subhanallah. lembut suaranya menyerap ke kalbu. Pastilah dia guru terhebat di alam ini. Bisik suara kecil di dalam hatiku.
"Selamat pagiiii cikguuuuuuuu," bergema kelas kami dengan suara nyaring anak-anak yang menyambut guru masuk ke kelas.
"Assalamualaikum anak-anakku," dia sahajalah guru yang mewakilkan kami sebagai anaknya. Dan dia jugalah yang tidak pernah tidak singgah difikiranku sehari-hari. Aku pasti ingin jadi guru. Seperti cikgu Shamsinar.
"Selamat pagi, anak-anak boleh duduk sekarang," manis wajahnya, Subhanallah. lembut suaranya menyerap ke kalbu. Pastilah dia guru terhebat di alam ini. Bisik suara kecil di dalam hatiku.
"Alhamdulillah, sekarang kita sudah sampai dalam minggu ke-dua, di bulan Mei, Cikgu nak tanya, apa peristiwa penting yang akan berlaku dalam masa terdekat," Cikgu Shamsinar bertanyakan kami sambil sebuah senyuman manis beliau sedekahkan buat kami semua.
" Hari Guru, cikgu," Jerit, Soon Nam, salah satu murid berbangsa siam yang fasih berbahasa melayu dalam kelas kami itu.
"Cikgu, bapa saya ada ukirkan sesuatu yang istimewa buat cikgu," Sambung Soon Nam lagi tanpa sempat cikgu Shamsinar memberi maklum balas pada jawapan sebelumnya.
"Soon Nam, memang betul juga Hari Guru, tapi yang lebih penting adalah peperiksaan pertengahan tahun anak-anak semua," Jelas Cikgu Shamsinar berhemah.
"Dan Soon Nam, mahu tak Soon Nam tolong cikgu?" Tanya Cikgu Shamsinar, sambil matanya tepat memandang susuk Soon Nam di belakang kelas. Itu antara istimewanya ibu guruku ini, bila bercakap matanya tajam memandang mata lawan cakapnya. Walau sesibuk mana dia.
"Boleh Cikgu. InsyaAllah," pecah tawa satu kelas, biasa benar si Soon Nam ini menggunakan perkataan InsyaAllah, Alhamdulillah, Allahuakbar dalam perbualan sehari-harinya, kesan langsung banyak bergaul dengan kami anak-anak Melayu Islam.
"Soon Nam, memang betul juga Hari Guru, tapi yang lebih penting adalah peperiksaan pertengahan tahun anak-anak semua," Jelas Cikgu Shamsinar berhemah.
"Dan Soon Nam, mahu tak Soon Nam tolong cikgu?" Tanya Cikgu Shamsinar, sambil matanya tepat memandang susuk Soon Nam di belakang kelas. Itu antara istimewanya ibu guruku ini, bila bercakap matanya tajam memandang mata lawan cakapnya. Walau sesibuk mana dia.
"Boleh Cikgu. InsyaAllah," pecah tawa satu kelas, biasa benar si Soon Nam ini menggunakan perkataan InsyaAllah, Alhamdulillah, Allahuakbar dalam perbualan sehari-harinya, kesan langsung banyak bergaul dengan kami anak-anak Melayu Islam.
"Soon Nam pesan sama bapa, jangan susah-susah sediakan apa-apa ya buat cikgu, dan Soon Nam juga jangan meminta-minta bapa sediakan sesuatu buat saya, boleh? Mudahkan permintaan saya?" Terang Cikgu Shamsinar.
"InsyaAllah, Cikgu," Jawab Soon Nam ikhlas, bukanlah dia mahu mempermainkan perkataan-perkataan penting dalam Islam itu.
"InsyaAllah, Cikgu," Jawab Soon Nam ikhlas, bukanlah dia mahu mempermainkan perkataan-perkataan penting dalam Islam itu.
Waktu rehat hari itu, penuhlah perbualan kawan-kawanku berkisar tentang hadiah-hadiah yang mereka sediakan buat guru-guru untuk menyambut Hari Guru yang tinggal dua hari sahaja lagi. Ada ibu yang sudah menggubah bunga untuk guru, ada yang sudah membelikan hadiah, ada yang mengukir hadiah, kebanyakannya adalah hadiah yang dibuat sendiri. Penduduk kampung seperti kami ini, pastilah hanya itu yang termampu.
Keningku berkerut tak ku sedar, penat memikir apa yang harus aku lakukan untuk hari guru ini. Inilah kali kedua aku menyambut hari guru.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setahun yang lalu semasa darjah satu, aku datang dengan berlenggang sahaja ke kelas. Semua orang berebut-rebut bersalam dengan cikgu sambil menghulurkan hadiah. Aku tetap di kerusi, tak mungkinlah aku bersalam dengan tangan kosong. Sudah seminggu juga anak-anak ini berbual tentang hadiah-hadiah mereka, aku dengan kerut keningku.
Semalam, rajukku di atas pokok langsat dan rambutan membuah bekas, di gigit semut api penuh betis kecil ku.
Rajuk pada ucapan ringkas seorang ibu. Rajuk yang datang pada anak yang masih pendek akalnya. Otak yang belum sempurna membesar memprotes semahu-mahunya cadangan ibu.
" Sayang, mak gorengkan kacang pedas, kemudian kita bungkus dan beri pada cikgu-cikgua esok ya," Ibu bersuara, selepas ibu keluar dari dapur, barangkali ibu melihat-lihat bahan-bahan apa yang ada di dapur untuk beliau masak untukku beri pada guru-guruku.
Aku pasti itu sahajalah bahan-bahan yang ada di dapur yang masih berbaki. Abah hanya akan pulang bersama bahan-bahan mentah lagi seminggu, abahku kuat berkerja di tapak pembinaan beratus-ratus kilometer dari rumah, pulang sebulan sekali dengan bekalan untuk sebulan buat kami.
" Mak, semua orang bawa hadiah bagus-bagus, saya malu kalau saya bawa hadiah kacang goreng pedas, kan kacang goreng pedas juga yang saya jual sehari-harian di sekolah, pasti saya akan diketawakan kawan-kawan," Jelasku panjang lebar.
" Sayang, kalau nak beli hadiah memang kita tak mampu, sayang tahu abah belum pulang, lagi seminggu," Ibu meluahkan kenyataan yang memang sudah sedia kami ketahui.
Aku berlari keluar sambil memanjat pokok rambutan kesayangan ku, tempat aku menenangkan hati diwaktu kecilku itu. Puas merenung, aku panjat pula pokok langsat yang sedang berputik muda. Berlari pulang bila kaki-kakiku terasa perit, di gigit semut api. Ibu sambut di muka pintu, rangkul tubuhku dan disapunya kakiku dengan minyak yang baunya tidak enak, tapi sakitnya hilang. Ibu kucup keningku, kami makan dan solat bersama. Rajukku hilang dengan hidangan nasi panas, ikan pekasam dan pucuk paku rawan yang di cicah dengan air asam. Malam itu aku terjaga dari lelapku bila terbau kacang goreng pedas yang sedang di goreng ibu di dapur, tapi aku nekad untuk tidak membawa hadiah itu.
Aku berlari keluar sambil memanjat pokok rambutan kesayangan ku, tempat aku menenangkan hati diwaktu kecilku itu. Puas merenung, aku panjat pula pokok langsat yang sedang berputik muda. Berlari pulang bila kaki-kakiku terasa perit, di gigit semut api. Ibu sambut di muka pintu, rangkul tubuhku dan disapunya kakiku dengan minyak yang baunya tidak enak, tapi sakitnya hilang. Ibu kucup keningku, kami makan dan solat bersama. Rajukku hilang dengan hidangan nasi panas, ikan pekasam dan pucuk paku rawan yang di cicah dengan air asam. Malam itu aku terjaga dari lelapku bila terbau kacang goreng pedas yang sedang di goreng ibu di dapur, tapi aku nekad untuk tidak membawa hadiah itu.
Hari itu degilku telah mendaparkan aku seorang diri di kerusiku sedang rakan-rakan yang lain mendapat perhatian guru-guru satu persatu.
"Assalamualaikum," Suara lunak yang pertama kali ku dengar.
"Assalamualaikum," Suara lunak yang pertama kali ku dengar.
"Errrr, Waalaikumussalam cikgu," jawab aku pada wajah yang biasa ku lihat, tapi tidak pernah mengajarku.
"Kenapa Huraiyah duduk seorang kat sini, mari ikut cikgu ambik makanan," Cikgu Shamsinar, seperti sinar mentari memancar.
"Cikgu saya malu, saya tak ada hadiah untuk bagi pada cikgu-cikgu," begitulah selalunya anak kecil yang tuturnya selalu tidak bertapis dari hatinya.
"Cikgu saya malu, saya tak ada hadiah untuk bagi pada cikgu-cikgu," begitulah selalunya anak kecil yang tuturnya selalu tidak bertapis dari hatinya.
"Huraiyah, semua cikgu-cikgu tak perlukan hadiah dari anak-anaknya, semua cikgu-cikgu nak anak-anaknya pandai, berakhlak mulia, Huraiyah janganlah malu, cikgu tengok Huraiyah anak yang baik kan, itu hadiah buat cikgu," Guru kelas darjah dua ini menyambung bualnya. Kembang hatiku sebentar.
Sekarang tiba giliran guru-guru membuat ucapan, ku dengar satu persatu, semuanya berterima kasih pada kami yang menjadi anak-anak murid yang baik, berharap kami akan belajar dengan rajin dan berjaya mengharumkan nama sekolah di peringkat daerah, diperingkat negeri dan diperingkat kebangsaan. Mengharumkan nama anak bangsa. Tiba giliran cikgu Shamsinar, guru kelas darjah dua Merah, kelas paling pandai di dalam darjah dua.
Sekarang tiba giliran guru-guru membuat ucapan, ku dengar satu persatu, semuanya berterima kasih pada kami yang menjadi anak-anak murid yang baik, berharap kami akan belajar dengan rajin dan berjaya mengharumkan nama sekolah di peringkat daerah, diperingkat negeri dan diperingkat kebangsaan. Mengharumkan nama anak bangsa. Tiba giliran cikgu Shamsinar, guru kelas darjah dua Merah, kelas paling pandai di dalam darjah dua.
"Assalamualaikum semua, saya hargai anak-anak yang bersusah payah mengusahakan hadiah-hadiah untuk kami guru-guru kalian. Tetapi bagi saya, kebiasaan ini pasti membebankan ibubapa kalian bukan," Cikgu Shamsinar sentiasa prihatin yang sekolah ini pelajarnya adalah rata-rata anak kampung, ibubapa kais pagi makan pagi, hanya ada segelintir sahaja yang mampu.
"Dan hari ini hati saya terasa sempit, bahu saya terasa berat, bila saya
lihat ada airmata yang bergenang pada mata seorang anak saya di sini yang ralat kerana dia tidak membawa hadiah,"
Sambil matanya tepat memandang mataku. Allahuakbar.
"Hari ini, cikgu ingin sampaikan pesan buat anak-anak, semoga pesan ini melekat di hati kalian sampai bila-bila, dan nanti di kemudian hari sampaikan pesan ini buat anak-anak kalian, Bukan hadiah di setiap hari guru yang kami kejar, gaji kami sudah dibayar selayaknya kad laporan yang diisi, kertas peperiksaan yang ditanda, pelajaran dan ilmu yang dicurahkan, InsyaAllah. Tetapi yang kami perlukan sebagai tanda penghargaan dan kasih sayang dari anak-anak adalah, DOA. Doa disetiap sujud kalian, doa disetiap solat kalian, masukkanlah doa ini bersama. 'Ya Allah, ampunilah guru-guru kami, dan berkatilah mereka dunia dan akhirat ya Allah'. Itulah hadiah paling besar yang paling kami hargai, InsyaAllah," Rembesan airmataku tak tertahan lagi, laju hingga membasahi tudung.
Tahun itu, ku akhiri tahun pertama pengajianku dengan menghadiahkan ibuku dengan nilai markah tertinggi di dalam Bahasa Malaysia, Matematik dan menjadi pelajar terbaik di kelas ku. Tiga kali naik mengambil hadiah dengan kasutku yang koyak (itu kata ibu, pasti aku tidak peduli lagi kasutku, yang ku ingat bahagia dapat memberi bahagia pada ibu dan abahku).
"Huraiyah, cikgu bangga dengan kamu. Terima kasih kerana belajar bersungguh-sungguh dan InsyaAllah cikgu jumpa kamu di kelas cikgu tahun hadapan. Tahniah mak cik," Guru muda itu datang menebar bahagia dan rasa yakin diri yang tinggi padaku sejak saat itu. Guru muda yang namanya selalu bermain di mulut ibuku jua. Shamsinar.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan ku tahu apa yang harus ku berikan pada guruku, di tahun itu dan tahun-tahun seterusnya.
Ku hadiahkan sehelai kertas bersama lantunan doa-doa yang indah didalamnya. Ku karang ikhlas dari hatiku buat guru-guruku, dan semoga sampai ke hati mereka. Seperti surat cinta yang penuh doa.
Darjah dua hingga darjah enam, kutaburkan bedak ibu yang wangi di atas surat-surat cinta untuk guruku. Bila di sekolah menengah, kepingan doa-doa itu, tidak perlu lagi di tabur bedak, sudah tidak menjadi trend waktu itu. *tersenyum.
Dan, Cikgu Shamsinar itulah salah satu pemangkinku dan salah seorang guru yang telah membuka mataku pada mulianya hati seorang guru.
Dan, Cikgu Shamsinar itulah salah satu pemangkinku dan salah seorang guru yang telah membuka mataku pada mulianya hati seorang guru.
Ya Allah, Engkau Ampunilah mereka guru-guruku, Engkau limpahilah rahmatMu, Engkau berkatilah rezeki mereka, Engkau masukkanlah mereka kedalam syurgaMu yang paling indah, Kurniakanlah mereka husnul khatimah, mudahkanlah sakaratulmaut mereka, luaskanlah kubur-kubur mereka dan hidangkan pandangan mereka dengan taman-taman syurgaMu, Ya Allah, aku bersaksi mereka guru-guruku yang mengajarku ilmuMu dengan ikhlas. Ampunilah mereka dan ku Mohon kabulkanlah doa-doaku buat mereka. Aameeen ya Allah.
Subscribe to:
Posts (Atom)






